Institusi Keuangan, seperti yang kita ketahui, telah ada selama berabad-abad. Meskipun cara kita melakukan transaksi perbankan telah banyak berubah, prinsip dasarnya tetap sama. Bank selalu memiliki banyak informasi pribadi dan keuangan tentang nasabah mereka. Saat ini, semua data tersebut menjadi lebih mudah diakses, yang menuntut langkah-langkah keamanan siber yang lebih kuat untuk melindunginya.
Perkembangan teknologi keuangan telah membawa banyak inovasi dan perubahan dalam beberapa dekade terakhir, seperti transfer uang, kartu kredit/debit, perbankan online, dan pembayaran mobile. Bank tidak hanya harus memperbarui sistem mereka untuk menyesuaikan dengan perubahan ini, tetapi juga mengubah proses mereka untuk memastikan keamanan tetap terjaga saat mengimplementasikan teknologi baru. Melindungi informasi sensitif dan menerapkan langkah-langkah keamanan untuk mencegah serangan dari para penjahat siber, termasuk phishing dan upaya malware, juga sangat penting saat ini.
Peraturan perbankan terus berubah sesuai dengan persyaratan yang diterapkan oleh sistem perbankan modern. Bank memiliki tanggung jawab hukum untuk menjaga data nasabah tetap aman dan melindunginya dari serangan siber atau akses yang tidak sah. Dalam artikel ini, kita akan melihat bagaimana bank dan perusahaan layanan keuangan modern memastikan bahwa mereka memenuhi tanggung jawab ini.
Praktik Terbaik Keamanan Data untuk Bank
Untuk mengamankan data sensitif, bank harus mengikuti pendekatan 360 derajat untuk memastikan bahwa kebocoran data tidak terjadi baik secara internal maupun eksternal. Ini melibatkan pengamanan baik di sisi nasabah (interaksi nasabah dengan sistem) maupun di sisi internal yang terkait dengan karyawan, vendor, dan sistem. Berikut adalah lima tips untuk mengamankan data di industri perbankan:
1. Autentikasi
Autentikasi mengharuskan setiap transaksi di bank dilakukan setelah memastikan identitas orang yang memulai transaksi. Ini berlaku bagi nasabah yang login ke sistem perbankan online atau mobile, bagi mereka yang mengunjungi bank secara langsung, atau yang menggunakan kartu kredit/debit di terminal POS dan ATM. Ini juga berlaku bagi karyawan bank yang memiliki akses ke data nasabah dan bank. Meskipun autentikasi sebelumnya hanya membutuhkan ID dan kata sandi atau PIN, banyak bank kini telah menerapkan autentikasi dua faktor (2FA) dan autentikasi multi-faktor untuk memastikan bahwa orang tersebut benar-benar siapa yang mereka klaim. Bank juga menggunakan teknik autentikasi biometrik untuk memverifikasi identitas nasabah, termasuk biometrik perilaku saat mereka berinteraksi dengan sistem perbankan seperti Interactive Voice Response (IVR). Ini adalah bagian penting dari strategi keamanan informasi bank secara keseluruhan.
2. Jejak Audit
Sejarah transaksi perbankan selalu tersedia dalam bentuk laporan atau buku tabungan. Selain itu, sistem perbankan juga mencatat jejak audit untuk setiap kejadian yang terjadi selama interaksi nasabah dengan sistem. Hal ini penting untuk merespons insiden dengan cepat, termasuk pelanggaran keamanan atau serangan ransomware. Baik itu nasabah yang menggunakan perbankan telepon atau perbankan online, waktu interaksi dicatat bersama dengan rincian interaksi tersebut. Data ini dibackup setiap hari dan tidak pernah dihapus sepenuhnya, melainkan diarsipkan dalam interval waktu tertentu. Sebagian dari jejak audit ini mencakup pemeliharaan rencana respons untuk insiden keamanan.
3. Infrastruktur yang Aman
Infrastruktur yang aman melibatkan sistem database dan server tempat data disimpan, serta batasan yang ditetapkan untuk mengamankan ini. Data produksi biasanya dienkripsi dalam setiap sistem perbankan inti. Akses ke sistem produksi dibatasi, hanya penyedia yang berwenang yang menangani infrastruktur penting. Manajemen akses yang efektif adalah kunci untuk mengamankan database ini. Jika diperlukan untuk pengujian, data penting seperti nomor rekening bank, nama nasabah, dan alamat harus disamarkan. Vendor yang menangani infrastruktur umumnya berbeda dari yang menangani aplikasi. Karyawan bank biasanya diberikan peralatan khusus di mana akses ke situs web sosial, email pribadi, dan port USB diblokir. Karyawan hanya bisa mengakses jaringan bank melalui VPN saat menggunakan Wi-Fi publik.
4. Proses yang Aman
Bank telah menetapkan banyak proses untuk memastikan bahwa keamanan diterapkan dan diuji. Contohnya, pembaruan Know Your Customer (KYC) untuk nasabah, perjanjian kerahasiaan (NDA) untuk karyawan dan vendor, serta pengamanan zona khusus di dalam gedung dan pusat data jarak jauh.
Dengan solusi Data Loss Prevention (DLP), bank dapat mengurangi ancaman dari pihak internal dan melindungi data pribadi nasabah seperti nama dan nomor kartu kredit. Solusi ini juga membantu memenuhi persyaratan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data seperti PCI DSS dan GDPR, sehingga memastikan bahwa keamanan bank memenuhi standar yang disepakati dan menjaga informasi nasabah tetap aman.
Proses yang berkaitan dengan peraturan global dan lokal juga diterapkan, dan penilaian risiko dilakukan untuk memastikan bahwa proses ini sesuai dengan persyaratan yang ada.
5. Komunikasi Berkelanjutan
Bank juga berkomunikasi secara teratur dengan nasabah tentang pembaruan sistem, pengenalan prosedur autentikasi baru, dll., selain laporan rekening yang secara berkala dikirimkan kepada nasabah. Nasabah juga bisa menetapkan batas dan pemberitahuan berdasarkan kondisi tertentu untuk memastikan bahwa mereka diberitahu jika ada aktivitas yang tidak terduga pada akun mereka. Meskipun ada banyak saluran komunikasi yang tersedia, pengaturannya fleksibel untuk memenuhi kenyamanan nasabah.
Memperkuat Keamanan Data dengan Endpoint Protector
Dengan mengikuti lima tips ini, bank dapat memastikan bahwa data pribadi dan keuangan nasabah tetap aman. Menggunakan berbagai solusi keamanan untuk melindungi data nasabah juga sangat penting. Solusi DLP seperti Endpoint Protector dari CoSoSys memberikan solusi komprehensif yang disesuaikan untuk mengatasi tantangan unik yang dihadapi oleh industri perbankan serta sektor keuangan yang lebih luas.
Endpoint Protector membantu mencegah gangguan operasional, masalah peraturan, denda, dan kerusakan reputasi akibat kebocoran data di endpoint. Melindungi data sensitif seperti informasi pribadi nasabah dan data pembayaran, Endpoint Protector secara terus-menerus memantau dan mengontrol bagaimana informasi digunakan untuk mengurangi risiko ancaman dari pihak internal dan kehilangan data akibat pengguna yang berbahaya, lalai, atau terkompromi.
Salah satu fitur unggulan dari Endpoint Protector adalah kemampuan Optical Character Recognition (OCR) yang canggih. Teknologi ini memungkinkan bank untuk memindai dan memantau berbagai jenis file yang ditemukan dalam gambar dan dokumen yang dipindai dengan akurat. Ini sangat berguna untuk mendeteksi informasi sensitif dalam format yang mungkin dilewatkan oleh solusi OCR berbasis server, memastikan perlindungan data yang komprehensif dan membantu memenuhi peraturan keuangan.
Penuhi kewajiban kepatuhan Anda, termasuk GDPR, CCPA, PCI DSS, GLBA, dan lainnya, serta jaga kontrol atas endpoint karyawan Anda – bahkan saat mereka bekerja dari jarak jauh atau offline.
